Pengaruh Tingkat Literasi Media terhadap Perilaku Penyebaran Hoax di Kalangan Generasi Z (Studi pada Siswa SMA Negeri 4 Depok)

M. Rizky Kertanegara, Alya Nabila, Cita Nanda Berlian, Eva Jeaniffer, Fenny Dwi, Iffah Sabrina

Abstract


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mencari secara ilmiah pengaruh tingkat literasi media pada perilaku penyebaran hoax pada Generasi Z. Media sosial menawarkan banyak manfaat dalam kehidupan masyarakat termasuk kemudahan komunikasi, kemudahan mendapatkan informasi, kemudahan mengirim pesan atau dokumen.. Namun, orang sering menerima dampak buruk dari media sosial; salah satunya menerima informasi hoax. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif eksplanatori dengan membagikan kuesioner kepada 67 responden siswa SMA Negeri 4 Depok. Penulis menggunakan konsep Media Literacy, yang terdiri dari tujuh dimensi, dan Perilaku Penyebaran Hoax, yang terdiri dari tiga dimensi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat variabel literasi media (X) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel perilaku penyebaran hoax (Y) pada Generasi Z. Namun, responden cenderung memiliki keterampilan media literasi pada tingkat dasar, hanya memiliki peran sebesar 35,7 persen. Untuk alasan ini, para pemangku kepentingan perlu melakukan pendidikan lebih lanjut atau kampanye literasi media tentang kepedulian akan informasi hoax di sekitar mereka.

Kata Kunci: Tingkat Literasi Media, Perilaku Penyebaran Hoax, Generasi Z


Full Text:

PDF

References


REFERENSI

Aditiawarman, M., & Raflis. (2019). Hoax dan Hate Speech di Dunia Maya. Padang: Lembaga Kajian Aset Budaya Indonesia Tonggak Tuo.

Asosiasi Jasa Penyedia Internet Indonesia (AJPII). (2018). Penetrasi & Profil Perilaku Pengguna Internet Indonesia. Penetrasi & Profil Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2018.

Aufderheide, P., & Firestone, C. M. (1993). Media Literacy: A Report of the National Leadership Conference on Media Literacy, the Aspen Institute Wye Center, Queenstown Maryland, December 7-9, 1992. Queenstown: Communications and Society Program, the Aspen Institute.

Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward A Unifying Theory of Behavioral Change. Psychological Review, 84.

Eriyanto. (2011). Analisis Isi: Pengantar Metodologi untuk Penelitian Ilmu Komunikasi dan Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Indonesia Mendidik. (2016). Dipetik April 20, 2020, dari Indonesia Mendidik: http://indonesiamendidik.com/tag/anti-hoax

Karelino, I. Y. (2020). Pengaruh Intensitas Penggunaan Whatsapp dan Tingkat Literasi Media Terhadap Perilaku Penyebaran Hoax (Studi Kuantitatif Eksplanatif Pada Warga Kelurahan Karet Tengsin). Jakarta: Universitas Pertamina.

Kemp, S. (2020, Februari 18). Dipetik Mei 2, 2020, dari datareportal: https://datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia

Kriyantono, R. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.

Nasrullah. (2016). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Nations, D. (2020). Dipetik April 20, 2020, dari Lifewire.com: https://www.lifewire.com/what-is-social-media-explaining-the-big-trend-3486616

Potter, J. (2011). Media Literacy the 5th Edition. London: SAGE Publication.

Potter, J. (2013). Media Literacy 6th Edition. London: SAGE Publications.

Potter, J. (2016). Media Literacy (8th ed.). Santa Barbara, USA: SAGE Publications.

Simarmata, J., Iqbal, M., Hasibuan, M. S., Limbong, T., & Albra, W. (2019). Hoaks dan Media Sosial: Saring Sebelum Sharing. Medan: Yayasan Kita Menulis.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2010). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.