https://journal.paramadina.ac.id/index.php/jpb/issue/feed Jurnal Peradaban 2021-08-23T05:50:49+00:00 Redaksi jurnal.peradaban@paramadina.ac.id Open Journal Systems <p><em>Jurnal Peradaban</em>, is a peer-reviewed journal, and specializes in philosophy, religion, and ethics studies. The aim is to provide readers with a deep understanding of philosophical, religious, and ethical problems in many aspects. </p> <p>The journal invites scholars and experts working in all disciplines in the humanities and social sciences. Articles should be original, inspiring, research-based, unpublished and not under review for possible publication in other journals. All submitted papers are subject to review of the editors, editorial board, and blind reviewers. Submissions that violate our guidelines on formatting or length will be rejected without review</p> https://journal.paramadina.ac.id/index.php/jpb/article/view/492 Populisme Islam dan Politik 2021-02-23T03:09:32+00:00 Azumardi Azra sunaryo@paramadina.ac.id <p>Dalam beberapa tahun terakhir istilah ‘populisme Islam’ mulai menjadi wacana akademik di kalangan para ahli. Istilah itu digunakan untuk melihat fenomena politik Islam sejak terjadinya sejumlah aksi massa kalangan Muslim Indonesia pada akhir 2016, awal 2017, dan akhir 2018 yang semula terkait dengan Pilkada DKI Jakarta kemudian<br>belakangan dihubungkan dengan Pilpres 2019.</p> <p>Penulis makalah ini sering mendapat pertanyaan tentang ‘populisme<br>Islam’ Indonesia baik dari audiens dalam negeri maupun luarnegeri. Pertanyaan itu sering mengandung nada bahwa ‘populisme Islam’ tidak hanya akan menguasai politik, tapi juga arsitektur Islam Indonesia.</p> 2021-08-23T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Peradaban https://journal.paramadina.ac.id/index.php/jpb/article/view/500 Akuisisi dan Polemik Filsafat dalam Islam 2021-03-08T04:04:12+00:00 Sunaryo sunaryo@paramadina.ac.id <p>Melalui artikel ini penulis menjelaskan bagaimana filsafat Yunani masuk ke dalam dunia muslim, bagaimana ia diserap, dikembangkan dan didiskusikan. Dari cara sarjana muslim merespon peradaban luar atau asing saat itu kita bisa melihat sebuah watak agama yang sangat terbuka dan sekaligus juga kritis. Meski dalam topik-topik tertentu mereka tidak satu pendapat, tetapi secara umum tradisi yang dikembangkan adalah sebuah sikap kritis yang cukup ilmiah. Suasana ini membentuk lingkungan keilmuan yang positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan secara umum dalam dunia muslim. Polemik antar-para teolog dan filsuf soal filsafat pada masa itu bisa kita pahami sebagai ekspresi keragaman pendapat yang membuat Islam semakin kaya dalam pemikiran. Keragaman ini menjadi penting ketika kita bicara tentang sikap Islam terhadap filsafat dan filsuf. Ketidaksetujuan terhadap filsafat hanya salah satu bagian pandangan cendekiawan muslim, sebagaimana dilakukan oleh al-Ghazālī, karena cendikiawan muslim yang lain justru menganggap itu sebagai sesuatu yang <em>mandūb</em> (dianjurkan) sebagaimana dinyatakan oleh Ibn Rusyd.</p> 2021-08-23T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Peradaban https://journal.paramadina.ac.id/index.php/jpb/article/view/493 Pengaruh Ibn Arabi dalam Kosmologi Hamzah Faansuri 2021-02-23T03:15:04+00:00 Fuad Mahbub Siraj fuad.siraj@paramadina.ac.id <p>Salah satu perkara penting yang banyak disebut dalam al-Qur’an adalah persoalan alam semesta. Ayat al-Qur’an mengajak manusia agar memperhatikan dan memikirkan tentang penciptaan alam semesta, karena&nbsp; di dalamnya terdapat tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan Allah. prinsip kosmologi Islam ialah menetapkan keesaan Tuhan dan martabat<br>wujud, yang secara metafisik menegaskan bahwa realitas pada dasarnya hanya satu, namun secara kosmologis, alam yang dapat dirasa dan difikirkan ini merupakan salah satu dari beragam wujud yang ada. Pemikiran Ibn Arabi tentang penciptaan alam menempatkannya dalam mainstream pemikiran Islam. Dalam pemahaman Ibn Arabi makna alam adalah segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) atau segala sesuatu selain al-Haqq. Ia menggunakan istilah tajalli dalam penciptaan. Tajalli bermakna<br>penampakan wujud Tuhan pada berbagai bentuk, oleh karena itu Tuhan selalu hadir dalam segala sesuatu. Ajaran tentang penciptaan alam Hamzah Fansuri dapat dihubungkan dengan ajaran tentang penciptaan alam Ibn<br>Arabi. Kedua ajaran ini sama-sama berpendapat bahwa alam diciptakan dari yang ada menjadi ada, bukan diciptakan dari yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Hamzah Fansuri menggambarkan tentang proses penciptaan alam semesta yang terus berlaku di mana alam muncul sebagai manifestasi dari zat-zat Allah yang spiritual pada awalnya kemudian<br>dilanjutkan ke fisik. Hamzah Fansuri menyebut derajat itu dengan ta'ayyun. Pada dasarnya, Hamzah Fansuri juga membedakan antara Tuhan dan alam, meskipun Tuhan dan alam adalah sama, tetapi ia memiliki sifat yang berbeda, di mana Tuhan sendiri memiliki esensi yang berbeda dengan alam</p> 2021-08-23T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Peradaban https://journal.paramadina.ac.id/index.php/jpb/article/view/501 ‘Abd Al-Ra’uf Al-Fansuri’s Answer to Early Disputation of Wahdat Al-Wujud of 17TH Century Acheh 2021-03-08T04:07:07+00:00 Ridwan Arif ridwan.arif@paramadina.ac.id <p>Abstrak: <em>Wa</em><em>ẖ</em><em>dat al-wujūd</em> adalah salah satu doktrin kontroversi dalam tasawuf. Ia tidak saja menjadi perdebatan di Timur Tengah, tapi juga pernah memicu konflik dan tragedi di Nusantara, khususnya Aceh pada abad ke-17. Para penganut paham ini pernah dihukum kafir dan dihukum mati. ‘Abd al-Ra’uf yang datang kemudian merasa bertanggung jawab menciptakan kembali kedamaian di Aceh, berupaya melakukan rekonsiliasi dengan menafsirkan ulang doktrin <em>wa</em><em>ẖ</em><em>dat al-wujūd</em> sesuai akidah Islam (<em>syarī’ah</em>). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu penelitian kepustakaan dengan meneliti sumber-sumber primer dan sekunder yang berkaitan dengan tema kajian. Hasil studi ini menemukan ‘Abd al-Ra’uf berupaya membuktikan bahwa doktrin <em>wa</em><em>ẖ</em><em>dat al-wujūd</em> tidak bertentangan dengan akidah Islam sebagaimana banyak disalah-pahami. <em>Wa</em><em>ẖ</em><em>dat al-wujūd</em> bukan bermaksud Allah SWT identik dengan alam, tetapi hanya Allah yang memiliki wujud pada taraf substansi (hakikat) sedangkan alam, walaupun berwujud dalam dunia kasat mata, hakikatnya tiada memiliki wujud. Wujud alam disebut wujud <em>majazī</em>. Walaupun mempertahankan <em>wa</em><em>ẖ</em><em>dat al-wujūd</em>, ‘Abd al-Ra’uf mengkritik pemahaman menyimpang tentang <em>wa</em><em>ẖ</em><em>dat al-wujūd</em> yaitu keyakinan yang mengatakan semua yang ada (alam semesta) adalah <em>dzāt</em> Allah. Upaya ‘Abd al-Ra’uf dalam melakukan reinterpretasi doktrin ini sangat penting dan bernilai dalam upaya mengembalikan kedamaian dalam masyarakat Aceh. &nbsp;</p> 2021-08-23T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Peradaban https://journal.paramadina.ac.id/index.php/jpb/article/view/499 News Site Commenting Policy and Its Ethical Implications 2021-03-08T03:47:08+00:00 Ika Karlina ika.karlina@paramadina.ac.id <p><strong>Abstract: </strong>Internet and social media platforms have provided a voice to the readers where they can express their opinions on news articles. However, such freedom to express one’s opinion has often lead to uninhibited flow of words that can prove harmful and hurtful to a segment of people, especially when discussions revolve around race, religion, politics, and minorities. News sites have responded differently in dealing with the onslaught of negativity. Some news sites have completely closed the commenting features while a few others have moderated comment sections. Such developments have generated an ethical dilemma in the journalistic realm—trying to balance the need of free expression, and avoidance of harm. Through this study, I synthesized research that deals with commenting in the online context. I found that current policies of news outlets concerning commenting forums have not provided a conducive environment for deliberated discussion. I therefore argue that news sites should open the comment feature along while applying a policy in which commentators’ identities are non-anonymous.&nbsp; Furthermore, I suggest the design and implementation of a reputation strategy whereby readers can comment and engage in a dialogue on issues while exercise social rewards and punishment.</p> 2021-08-23T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Peradaban