Internet of Things (IoT) sebagai Solusi Ketahanan Pangan di Tengah Bencana Sosial
DOI:
https://doi.org/10.51353/szgd3w16Kata Kunci:
IoT, ketahanan pangan, bencana sosial, pertanian cerdasAbstrak
Ketahanan pangan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan potensi bencana sosial seperti konflik atau distribusi pangan yang tidak merata. Pemanfaatan Internet of Things (IoT) menjadi alternatif solusi untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Penulisan ini bertujuan mengkaji peran IoT dalam meningkatkan efisiensi pertanian guna mencegah krisis dan bencana sosial akibat kelangkaan pangan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari berbagai sumber relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa IoT dapat membantu dalam pemantauan lahan, irigasi otomatis, prediksi cuaca, serta deteksi hama dan penyakit. Teknologi ini meningkatkan produktivitas dan distribusi pangan secara lebih adil. Kesimpulannya, implementasi IoT dalam sektor pertanian berpotensi mencegah dampak bencana sosial dengan memperkuat ketahanan pangan melalui sistem yang lebih cerdasReferensi
[1] R. Efendi and D. Sagita, “Teknologi pertanian masa depan dan peranannya dalam menunjang ketahanan pangan,” Sultra Journal of Mechanical Engineering (SJME), vol. 1, no. 1, pp. 1–12, Oct. 2022, doi: 10.54297/sjme.v1i1.297.
[2] Muhammad Agus Umar, “Bonus demografi sebagai peluang dan tantangan pengelolaan sumber daya alam di era otonomi daerah,” Jurnal Ilmiah Pendidikan, vol. 8, no. 2, Jun. 2018.
[3] M. A. Setiawan, T. I. Noor, L. Sulistyowati, and L. Trimo, “THE IMPACT OF DISASTERS ON FOOD SECURITY IN SERANG REGENCY, BANTEN PROVINCE,” 2022.
[4] Zahraturrahmi and Tennisya Febriyanti Suardi, “INTEGRASI IoT DALAM RANTAI NILAI AGRIBISNIS: TELAAH LITERATUR TERHADAP INOVASI DAN EFISIENSI SISTEM PANGAN,” Jurnal Agrisep, vol. 26, no. 1, pp. 60–78, 2025.
[5] I. P. Sari, A. Novita, A.-K. Al-Khowarizmi, F. Ramadhani, and A. Satria, “Pemanfaatan Internet of Things (IoT) pada Bidang Pertanian Menggunakan Arduino UnoR3,” Blend Sains Jurnal Teknik, vol. 2, no. 4, pp. 337–343, Jun. 2024, doi: 10.56211/blendsains.v2i4.505.
[6] F. J. Rizal, M. A. Rahman, A. A. Maulana, and Y. Setiowati, “IMPLEMENTASI SMART FARMING DALAM MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN,” Jul. 2024.
[7] Fanesha Panca Putri, Lora Afrilisia, Mufidah Insani Tazri, Mutia Oktaviani, Putri Amelya Ningsih, and Resti Fevria, “Tantangan Petani Dalam Mempertahankan Ketahanan Pangan: Studi Literatur,” Prosiding Seminar Biologi Nasional, vol. 4, no. 2, pp. 580–584, Mar. 2025.
[8] I. A. Juliannisa, H. Rahma, S. Mulatsih, and A. Fauzi, “Regional Vulnerability to Food Insecurity: The Case of Indonesia,” Sustainability, vol. 17, no. 11, p. 4800, May 2025, doi: 10.3390/su17114800.
[9] Arifah, D. Salman, A. Yassi, and E. B. Demmallino, “Livelihood vulnerability of smallholder farmers to climate change: A comparative analysis based on irrigation access in South Sulawesi, Indonesia,” Regional Sustainability, vol. 3, no. 3, pp. 244–253, Sep. 2022, doi: 10.1016/j.regsus.2022.10.002.
[10] G. Manurung, I. Sastrodiharjo, and Y. Hendayana, “The Impact of Climate Change on Indonesia’s Food Security Strategy Undertaken by Bulog in 2023,” Dinasti International Journal of Economics, Finance & Accounting, vol. 5, no. 3, pp. 1988–1994, Aug. 2024, doi: 10.38035/dijefa.v5i3.3204.
[11] Isro’ Kurniawan Rahakbauw and Palupi Lindiasari Samputra, “Analisis Tantangan dan Strategi Ketahanan Pangan di Indonesia,” JURNAL AGRICA, vol. 18, no. 1, pp. 1–17, Apr. 2925.
[12] R. R. Rachmawati, “SMART FARMING 4.0 UNTUK MEWUJUDKAN PERTANIAN INDONESIA MAJU, MANDIRI, DAN MODERN,” Forum penelitian Agro Ekonomi, vol. 38, no. 2, p. 137, Jun. 2021, doi: 10.21082/fae.v38n2.2020.137-154.
[13] D. Oktareza, A. Noor, E. Saputra, and A. Vivi Yualianignrum, “Krisis Pangan dalam Perspektif Hukum dan Sosiologi di Indonesia: Tantangan dan Prospek,” Indonesian Journal of Law, vol. 1, no. 6, pp. 170–176, 2024.
[14] B. Wahyudi, Muhammad Danu, Fahrurrozi Mawasandi, Zakaria Nur Aziz, and M. Fahrul Ghifari Rosyadi, “Transformasi Manajemen Rantai Pasokan Berbasis Internet of Things (IoT): Tinjauan Literatur,” Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan, vol. 4, no. I, pp. 32–44, Mar. 2025, doi: 10.55826/jtmit.v4iI.535.
[15] Cita Nafisah Putri, Aniq Juman Ramadhani, Mutiah, Muhammad Abdu Rifki, Mas Adi Chandra Damora, and Yeni Budiawati, “SUPPLY CHAIN MANAGEMENT BERBASIS IOT DALAMMENINGKATKAN KEAMANAN PANGAN: LITERATURE REVIEW,” Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ), vol. 2, no. 3, pp. 3534–3544, 2025.
[16] Yusi Nurmala Sari and Maya Sari, “Inovasi Teknologi IoT untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan,” Jurnal Kolaboratif Sains, vol. 9, no. 1, pp. 271–284, Jan. 2025.
[17] J. Junaidi and K. Ramadhani, “EFEKTIVITAS INTERNET OF THINGS (IOT) PADA SEKTOR PERTANIAN,” JURNAL TEKNISI, vol. 4, no. 1, p. 12, Feb. 2024, doi: 10.54314/teknisi.v4i1.1793.
[18] Fajar Ramadhan, Febri Pratama, Fauziah Noviandini, and Ilham Albana, “Efektifitas Penerapan Internet of Things Pada Pertanian Padi: Tinjauan Literatur,” Jurnal Teknologi dan Ilmu Komputer, vol. 1, no. 2, pp. 40–48, 2025.
[19] K. D. Goda and A. D. P. S. Neta, “Kajian Pengembangan Internet of Things (IoT) pada Sektor Pertanian di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur,” JURNAL KRIDATAMA SAINS DAN TEKNOLOGI, vol. 6, no. 02, pp. 478–493, Jul. 2024, doi: 10.53863/kst.v6i02.1233.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Syaqilla Maulidia, Naina Camila

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
CC BY-SA 4.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International
Lisensi ini mengharuskan pengguna ulang untuk memberikan kredit kepada pencipta. Lisensi ini memperbolehkan pengguna ulang untuk mendistribusikan, mencampur, mengadaptasi, dan mengembangkan materi dalam format atau media apa pun, bahkan untuk tujuan komersial. Jika orang lain mencampur, mengadaptasi, atau mengembangkan materi tersebut, maka mereka harus melisensikan materi yang telah dimodifikasi dengan syarat yang sama.
-
BY (Atribusi): Kredit harus diberikan kepada Anda sebagai pencipta.
-
SA (BerbagiSerupa): Adaptasi harus dibagikan dengan lisensi yang sama seperti lisensi asli.


