Mendialogkan Ajaran Agama Dengan Damai

Penulis

  • Valensius Ngardi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
  • Gratia Wing Artha Universitas Nasional Jakarta, Jakarta Selatan, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.51353/af9htc35

Kata Kunci:

Dialog antaragama, intoleransi Yogyakarta, komunitas islam-katolik

Abstrak

Penelitian ini membahas persoalan kekerasan dan intoleransi antarumat beragama di Kota Yogyakarta, dengan fokus pada relasi antara komunitas Islam dan Katolik. Meskipun Yogyakarta dikenal sebagai kota berbudaya, humanis, dan plural, dalam satu dekade terakhir muncul berbagai peristiwa intoleransi yang mencederai relasi sosial-keagamaan, salah satunya kasus pemotongan simbol salib pada makam warga Katolik di Kotagede. Penelitian ini bertujuan untuk mengurai akar persoalan kekerasan agama serta menawarkan dialog kehidupan sebagai jalan etis dan kultural untuk membangun perdamaian antarumat beragama. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan perspektif ekonomi-sosial, budaya, serta teori perlawanan sosial, artikel ini menunjukkan bahwa intoleransi tidak semata-mata dipicu oleh perbedaan teologis, melainkan juga oleh faktor struktural seperti ketimpangan ekonomi, identitas mayoritas–minoritas, stereotip historis, dan lemahnya dialog di tingkat akar rumput. Temuan penelitian menegaskan bahwa dialog kehidupan—yang diwujudkan melalui kerja sama sosial, solidaritas ekonomi, dan keterlibatan lintas iman—merupakan strategi efektif untuk meredam konflik dan membangun relasi kemanusiaan yang berkeadaban di masyarakat plural.

Referensi

Aby, B. A. F. (2007). Islam humanis: Citra Islam rahmatan lil ‘alamin. Jurnal Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.

Barker, C. (2000). Cultural studies: Teori dan praktik. Kreasi Wacana.

Colbran, N., et al. (2010). Kebebasan beragama atau berkeyakinan: Seberapa jauh? Kanisius.

Collins, C. S. (2013). The word made love: The dialogical theology of Joseph Ratzinger. Liturgical Press.

Dhavamony, M. (1993). Fenomenologi agama. Kanisius.

Dokumen Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. (2019). Perjalanan apostolik Bapak Suci Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab, 2–3 Februari 2019. Obor.

Doornik, N. G. M. van. (1997). Fransiskus dari Assisi: Nabi bagi masa kini. Vicari Missionaria OFM.

Eddyono, S., & Pinem, L. M. (Eds.). (2020). Pembangunan sosial: Teori dan praktik. Gadjah Mada University Press.

Freire, P., et al. (2016). Menggugat pendidikan: Fundamentalis, konservatif, liberal, anarkis. Pustaka Pelajar.

Hardawiryana, R. (Trans.). (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. Obor.

Harris, S., & Nawas, N. (2015). Islam and the future of tolerance: A dialogue. Harvard University Press.

Khotimah, K. (2011). Dialog dan kerukunan antarumat beragama. Jurnal Universitas Islam Negeri Yogyakarta.

Kompas. (2020, July 16). Kemiskinan dan jurang ketimpangan kian dalam. Kompas.

Kompas. (2020, July 22). Diakui negara tetapi masih didiskriminasi. Kompas.

Majalah Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. (n.d.). Publikasi PPIM. PPIM UIN Jakarta.

Magnis-Suseno, F. (2006). Menalar Tuhan. Kanisius.

Tucker, M. E., & Grim, J. A. (Eds.). (2003). Agama, filsafat, dan lingkungan hidup. Kanisius.

Parekh, B. (2008). Rethinking multiculturalism: Keberagaman budaya dan teori praktik. Kanisius.

Robert, D. L. (2009). Christian mission: How Christianity became a world religion. Wiley-Blackwell.

Scott, J. C. (1990). Domination and the arts of resistance: Hidden transcripts. Yale University Press.

Sobrino, J., & Pico, J. H. (1989). Teologi solidaritas. Kanisius.

Sumartana, T., et al. (2005). Pluralisme, konflik, dan pendidikan agama di Indonesia. Pustaka Pelajar.

Hari. (2020, July 23). Personal interview. Yogyakarta, Indonesia.

Novi. (2020, July 23). Personal interview. Yogyakarta, Indonesia.

Wikipedia. (2020, July 23). Babilon.

Tirto.id. (2020, July 17). Intoleransi di Yogyakarta meningkat lima tahun terakhir kata Setara Institute.

Google Search. (2020, July 23). Perang Salib tahun berapa.

Diterbitkan

2024-12-30

Terbitan

Bagian

Articles

Cara Mengutip

Mendialogkan Ajaran Agama Dengan Damai. (2024). Jurnal Peradaban, 4(2), 96-106. https://doi.org/10.51353/af9htc35