Mengurus Homo Indonesiaensis
DOI:
https://doi.org/10.51353/7gdwwr48Keywords:
Psikologis, Post-colonial, KebudayaanAbstract
Diskusi-diskusi mengenai Indonesia, Negara Indonesia, NKRI, kebangsaan Indonesia, dan sebagainya sering lupa bahwa Indonesia bukanlah sekedar fakta geografis, demografis, politis, ataupun yuridis saja. Indonesia adalah sebuah proyek kultural psikologis besar. Oleh karena itu, untuk mengurus Indonesia diperlukan juga strategi kultural psikologis yang komprehensif, bukan sekedar jargon dan seremoni saja. Pada gilirannya, mencari strategi budaya yang pas bagi Indonesia hari ini menuntut kita untuk memahami Indonesia sebagai suatu modern post-colonial state. Identitas dan dinamika kebangsaan hari ini merupakan fungsi dari warisan kolonial sebelum kemerdekaan dan apa yang terjadi setelahnya. Dengan demikian, pertama-tama yang perlu untuk dilihat adalah Indonesia sebagai suatu “projek’ psikologis besar dan faktor-faktor yang terlibat di dalamnya; kedua, kondisi Indonesia/manusia Indonesia hari ini; dan yang ketiga, atas dasar kedua hal di atas, bagaimana kita membangun fondasi bagi strategi kebudayaan yang pas.References
Alatas, Syed Hussein. (1977). The Myth of the Lazy Native. London: F. Cass.
Anderson, Ben. (1991). The Imagined Community. New York: Verso.
Billig, M. (1995). Istilah “banal nationalism” yang digunakan Billig merujuk pada representasi sehari-hari dari “the nation” dalam simbol-simbol yang membangun “a shared sense of national belonging”. Saya meminjam istilah ini untuk merujuk juga pengalaman konkret sehari-hari dari warga negara terkait dengan pemenuhan hak-hak mereka sebagai warga suatu bangsa.
De Tocqueville, Alexis. (2003). Democracy in America. Penguin Classic.
Dewantara, Rilis Asa. (2023). Menyingkap Perjalanan Pendidikan Anak Keluarga Miskin di Indonesia.
Hidayat, K., & Widjanarko, P. (Eds.). (2008). Reinventing Indonesia: Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa. Jakarta: Tidar Heritage Foundation dan Penerbit Mizan.
Idris, I.K., & Gismar, A.M. (2021). TikTok: Ruang baru ekspresi dan negosiasi identitas lokal Gen Z Indonesia.
Kartodirdjo, S. (2001). Indonesian Historiography. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Memmi, Albert. (1965). The Colonizer and the Colonized (terj. dari edisi Prancis 1957). Boston: Beacon Press.
Nandy, Ashis. (1983). The Intimate Enemy: Loss and Recovery of Self under Colonialism. New York: Oxford University Press.
Penders. (1997). (Judul buku tidak diberikan).
Renan, E. (1990). What is a nation? Dalam H. Bhabha (Ed.), Nation and Narration. London: Routledge. (Edisi asli diterbitkan tahun 1882)
Rousseau. (1881). The Social Contract. (Informasi lebih lanjut mengenai edisi dan penerbit diperlukan)
Sandel, Michael. (1998). Democracy’s Discontent: America in Search of a Public Philosophy. Harvard University Press.
Soekarno. (1983). Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Depan Pengadilan Kolonial Bandung (Edisi asli diterbitkan tahun 1930). Jakarta: Yayasan Pendidikan Sukarno dan Inti Idayu Press.
Stoler, Ann. (Tanpa Tahun). Children on the Imperial Divide: Sentiments and Citizenship in Colonial Southeast Asia. CSST Working Paper #78.
Todorov, Tzvetan. (1992). The Conquest of America: The Question of the Other. New York: Harper and Row.
Widjanarko, P. (2008). Indonesia: Sebuah Bangsa Yang Tak Pernah Sudah? Dalam Hidayat, K., & Widjanarko, P. (Eds.). Reinventing Indonesia: Menemukan Kembali Masa Depan Bangsa. Jakarta: Tidar Heritage Foundation dan Penerbit Mizan.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Abdul Malik Gismar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


